Minggu, 20 Februari 2011

Sarasvatī (सरस्वती)

Photo

Sarasvatī is Risa Saraswati, a new aspiring singer/song writer who pursue a solo career using her Sanskrit name, Sarasvatī (सरस्वती). 

Such divine passion towards knowledge, art, and particularly music, is conveyed through songs and lyrics, with passages after passages, words by words Risa shares her eternal experience of pursuing happiness, with you.

Her spiritual journey, her quest for perfection, and many simple, negligible, unimportant whatnot. 

This is Sarasvatī. Enjoy the truthful music from Risa Saraswati.
Genre: Angelic-Diabolical-Eerie-Unconventional


Photo





Photo







wuihh emangg dasyatt jayaa nihh make up nya.. BILUR!
teh risa makan bakso - ternyata dia jadi PNS uyy skrg..


track list that i must go listen about sarasvati :
01.Story of Peter
02.Cut and paste
03.Question
04.Fighting Club
05.Bilur
06.Oh I Never Know
07.Perjalanan

Keluarga besar SARASVATI
Sarasvati is a pseudonym for a solo act from Risa Saraswati, an aspiring singer/song writer who pursue a solo career using her Sanskrit name, Sarasvati. She resides in Indonesia, where the cutting-edge scene is currently evolving to become a new powerhouse in South East Asia. 

“Ethereal and dreamy soundscapes,” her music is noted by one of Indonesian leading newspaper, The Jakarta Post, in which hailed Sarasvati as a new potential talent within the cutting edge scene. Previously known as the lead singer of an Indonesian Electronic pop-Band, Homogenic, Sarasvati released her debut EP in July 2010, titled “Story of Peter.”




In 2003, with two fellow band-mate, Risa Saraswati established Homogenic, an electronic Pop group that took the name of one of Bjork’s album in 1997. The band joined FFWD records, a well-established non-mainstream label in Indonesia, which released artists such as The S.I.G.I.T., Mocca (band), and Hollywood Nobody. 

In 2009, for an undisclosed reason, Risa decided to leave the band and pursue a solo career using “Sarasvati” as a moniker, a Sanskrit name that represents one of the deity in Hinduism. In 2010, Sarasvati released a debut EP, “Story of Peter.” 



07. sarasvati - perjalanan

 

Dengan kereta malam kupulang sendiri
Mengikuti rasa rindu
Pada kampung halamanku
Pada ayah yang menunggu
Pada ibu yang selalu mengasihiku

Duduk dihadapanku seorang ibu
Dengan wajah sendu, sendu kelabu
Penuh rasa haru dia menatapku,
Penuh rasa haru dia menatapku
Seakan ingin memeluk diriku..

Dia lalu bercerita tentang
Anak gadisnya yang telah tiada
Karena sakit dan tak terobati
Yang wajahnya mirip denganku, yang wajahnya mirip denganku




02. sarasvati - cut and paste



I hear voices inside my back
Disturbing peace for my year's sake
I need a rest to hear the air
I've been deaf for you is it fair?

There is a girl with a million lust
She does things to get it fast
She's only good in cut and paste
A silly girl who think she's the best

There is something in your mind
Force my every single line
Should I dancing in your stage
Just like your cat in your cage

There is no light there's only dark
in your heart I see no art
I'm like a busker in the park
I sing I cry I play my part...



---------------------------------------------------------------
"cut and paste"

Aku mulai berteriak histeris, menangis, meraung seperti singa yang kehilangan anak. Ditanganku masih menempel beberapa serpihan cermin yang berserakan dilantai tepat dibawah kakiku. Selama 24 tahun tinggal di rumah orangtuaku, ini adalah cermin kelima yang telah kupecahkan, kubanting seketika itu juga saat tadi tak sengaja memasuki kamar adikku. Mungkin dia akan marah nanti, tapi tak apa aku lebih takut melihat cermin daripada semburan kemarahan yang keluar dari mulutnya. 

Aku tahu, ibu sudah memperingatkan seisi rumah untuk tidak menaruh cermin sembarangan, ibu lebih memilih untuk tidak berdandan daripada melihat aku menangis histeris. Tapi adikku adalah gadis kecil yang tak lama lagi akan bertransformasi menjadi seorang perempuan, sepertinya dia tidak tahan dengan keabsenan 'cermin' dalam proses transformasinya. Maafkan aku dik, lebih baik kuhadapi tantangan menceburkan diri kedalam kawah panas dibandingkan jika harus melihat diriku didepan cermin.

Dulu aku tak begini. Hidupku dipenuhi mimpi yang biasa hinggap di kepala banyak gadis remaja, ingin menjadi inilah ingin menjadi itulah. Aku adalah wanita yang penuh dengan hasrat dan obsesi, sebagai anak pertama. Orang tuaku memberikan segalanya untuk memfasilitasi mimpi mimpiku. Saat aku ingin menjadi pemandu sorak, mereka tak segan mensupportku dengan berbagai hal. 

Saat aku ingin menjadi pemain softball, saat aku ingin menjadi penyanyi bahkan saat aku nekat ingin mengikuti olympiade matematika, mereka selalu ada dibelakangku, mensupportku. Aku termasuk gadis beruntung, semua keinginanku bisa kuwujudkan. Mungkin hal ini yang membuat diriku merasa bahwa aku adalah gadis yang lebih hebat daripada teman-temanku yang lain.

Aku lebih suka berbicara dengan diriku sendiri, melalui cermin. Disitu kulihat semua kesempurnaan seorang aku. Aku merasa terbelah menjadi dua. Aku yang ada disini, dan aku yang ada di dalam cermin yang seringkali memotivasiku untuk terus bergerak dan bergerak. Kuanggap hanya diriku yang ada di dalam cerminlah satu-satunya orang yang bisa mengatur hidupku.

Aku tidak percaya pada kata "persahabatan", kuanggap semua orang yang berada di dekatku adalah orang-orang yang memang ingin berkenalan dengan seorang manusia yang berkualitas sepertiku. temanku banyak, tapi dimataku. Tidak bisa kulihat ada tulisan "Sahabat" yang tertulis di kepala mereka.  

Aku tidak memiliki pacar, karena dipikiranku, laki-laki yang mencoba mendekatiku adalah laki-laki yang ingin menjadi terkenal dan hanya memanfaatkan namaku untuk mencapainya. Aku memiliki rasa curiga berlebih terhadap manusia lain, termasuk pada adikku sendiri.  Egois memang, tapi apa salahnya berjaga-jaga daripada aku yang menderita di kemudian hari.

Ada seorang murid pindahan (saat itu aku masih duduk di bangku sekolah), seorang laki laki pendiam, sangat sederhana tapi wajahnya cukup lumayan. Dalam hitungan hari, tiba-tiba dia menjadi seorang sosok idola di mata teman-teman. Perhatian padaku mulai teralihkan padanya, dia pintar dalam segala bidang bahkan dia menguasai satu bidang yang sangat sulit kupelajari, yaitu teater. 

Pria ini pintar dalam semua hal, tapi  dia bisa menjadi sahabat semua orang. Sangat baik hati, ramah, dan yang sangat aku benci-dia begitu baik terhadapku. Aku merasa kalah total darinya, harus kulakukan sesuatu untuk orang ini, harus. Aku tahu, dibalik kebaikannya, dia pasti punya niat jahat untukku.

Suatu hari, ada sebuah pementasan teater di gedung sekolah, pria yang menjadi rivalku ini menjadi bintang utamanya. Semua orang antusias pada acara ini, sedang aku tenggelam dalam kekalahan dan aku harus merencanakan sesuatu yang harus bisa menggagalkan pementasannya. 

Hidupku takkan tenang jika harus melihat orang bersorak sorai terhadap aksinya. Mulai kurancang aksiku, seperti biasa. Aku mendapat ide ini dari rekanku diriku yang ada di dalam cermin. Dia sangat memotivasiku untuk merencanakan sesuatu berbahaya bagi rivalku ini. Sebelum pentas, kujalankan aksiku, ku potong beberapa tali yang menggantung diatas panggung, kuhitung dan ku kira-kira dimana dia akan berdiri dan pada menit keberapa dia akan berada disini.

Sebelumnya telah ku copy beberapa file dialog teater hari itu. Aku hanya ingin membuatnya 'cacat' sedikit saja, biarkan dia pincang saja agar tidak bisa menjadi atlet setidaknya ada satu bidang yang membuatku lebih unggul darinya. Semua ide ini kudapat dari diriku yang ada di dalam cermin.

........

Kesadaran ku hilang. Harga diriku jatuh sampai ke dasar muka bumi saat kejadian itu memang berhasil terjadi kepadanya. Laki laki yang kuanggap adalah saingan terberatku. Hanya saja, dia tidak hanya cacat tapi dia pergi untuk selamanya. 


Ternyata aku tidak sepintar itu memprediksi letak jatuhnya lampu yang harusnya menimpa kakinya. 

Ternyata aku tidak secerdas itu mengabaikan kejadian terburuk apa yang akan terjadi padanya. 


Perangkap yang kupasang untuknya jatuh tepat diatas kepala, ratusan teman-temanku yang sedang menonton pertunjukkan teater menjadi saksi dari hancurnya kepala sang idola. 

Aku ada disitu, menggigil tidak bisa berbuat apa-apa....

Baru kali ini aku merasa "bersalah", aku menghukum diriku sendiri. Tak berani kuungkapkan kenyataan sebenarnya aku yang berbuat jahat padanya.

"i hear a voices inside my back.... disturbing peace for my years sake... i need a rest to hear the air..."

Detik itulah detik dimana aku mulai membenci cermin, berpuluh tahun kupercayakan segala keputusan atas tingkah lakuku pada diriku yang berada di dalam cermin. 

Kubiarkan aku yang didalam cermin terus berpendapat atas apa yang harus kulakukan. Aku percaya padanya tapi untuk kali ini dia telah membunuhku langsung menembak tepat dengan sebuah peluru meluncur ke dalam otak. 

Pada detik itulah aku mulai menghancurkan semua cermin yang ada di dalam rumahku, detik dimana aku mulai kehilangan arah dan terus berteriak histeris. Aku membenci diriku sangat membenciii. Aku merasa diriku adalah seorang wanita penuh hasrat yang rela melakukan apapun demi menggapainya.. Aku benci....

"there is a girl with a million lust, she does things to get if fast, she's only good in cut and paste..."

Dan aku benci diriku yang ada di dalam cermin, selama ini aku menurut padamu, kuanggap kamu sahabatku. Bagaimana mungkin ternyata diriku sendiri lah yang mencelakakan aku. Ku anggap kamu adalah orang lain, walau wajah kita sama baju kita sama gaya kita sama.

Tapi aku tidak pernah begitu percaya terhadap orang lain selain diriku sendiri dan diriku yang ada di dalam cermin. Seumur hidup aku akan terus berada di dalam belenggu penyesalan....

kepada diriku yang ada di dalam cermin..... 

"there is something in your mind, force my every single line...should i dancing in your stage....just like your cat in you cage...there is no light there's only dark....in your heart i see no art...."

Dan aku mulai memecahkan cermin. Meraung.... mengurung diri di dalam kamar kotakku yang lebih menyerupai sebuah penjara, tanpa jendela tanpa cermin. Kugelapkan ruangan ini dan menutup telingaku...


01.sarasvati - story of peter


haa... aa... aa... aa...
haa... aa...
haa... aa..

Sad eyed boy in his silly pants
Sometimes his there sometimes he hides
Pale fair skin and his tiny hands
Waving from distance in black and white

aa... aa... aa... aa...
aa... aa... aa... aa...

Nobody sees him when his around
But his beside me whenever im down
Run about and play around my silky dress
Now I could never forget his face

aa... aa... aa... aa...
aa... aa... aa... aa...
haa... aa... aa... aa...
aa... aa... aa...

I don't know who you are
And I don't know where your from

Give me your hands
Lets find a light
Leave all this behind
And forget the world

So the silly peter disappear
Now his nowhere to be seen
His not those shades that I fear
And many things remind me of him

haa... aa... aa...
haa... aa... aa... 




05. sarasvati - bilur

"Selendang bersulam sutra, biduri lembayung jingga...
Saksi mati tuk bersaksi, gelimang pesona diri ...
Belia usia dulu, ruap cinta tlah menggebu ...
Samar kulihat dunia ...
Tak sadar semua fana ...

Sekilas lihatlah mega, anugerah tiada tara ...
Ini tak adil untukku, halimun hitam merasuk ...
Ceracau getir ibunda, gemertak sengap hatinya ...
Firasat tak penah salah ...
Hanya kuberbuat ...
Ulah ...“

“Semerbak dupa iringi kumelangkah ...
Cungkupku hanya tanah ...
Bilur hati merambah ...
Akan datangkah bagiku ...
Kesempatan...

Bila tak ada titian ...
Diri yang rupawan ...
Bila tak ada titian ...
Jalan yang ...
Rupawan...”





Lagu ini menceritakan tentang hidup seorang perempuan. Sosok wanita ini biasa dipanggil Mae. Dengan paras yang cukup cantik dan talentanya yang luar biasa di dunia tarik suara seni tradisional mampu membuat banyak orang berdecak kagum untuknya.

Pada masanya, beliau cukup tenar dikalangan seniman tradisional. Tidak ada yang tahu bagaimana kisah hidupnya, sampai akhirnya ajal menjemputnya secara tiba-tiba, dari situ terkuak semua yang pernah terjadi padanya semasa hidup. Ini memang sangat janggal, karena proses menuju terkuaknya cerita seorang Mae sangat rumit dan tidak masuk akal.

Berdasarkan cerita dari bibir ke bibir, sampailah cerita itu ke telinga seorang bernama SARASVATI. SARASVATI sendiri merupakan seorang penyanyi yang saat itu juga saya merasa tergugah akan kisah hidupnya yang pilu. Dan berujung pada dibuatnya lagu yang didikasikan untuknya berjudul "bilur". 

Bilur sendiri dalam kamus Bahasa Indonesia berarti 'bengkak kemerah-merahan ; bekas dipukul', dalam lagu berjudul "bilur", SARASVATI menyambungkan kata bilur dengan kata hati yang berarti luka di dalam hati.

Dalam beberapa bait lirik tersirat bahwa hidupnya dulu bergelimang pesona, dia suka menggunakan selendang dan biduri batu permata) pada saat menyanyi diatas panggung. Dulu dia adalah gadis penurut yang selalu ingin membahagiakan kedua orangtuanya, terlebih ibunya. 

Tapi suatu saat, dia berontak tidak mau dikendalikan terus oleh sang ibu dan akhirnya memilih untuk menomorsatukan perasaannya dan menikah dengan laki-laki yang menurutnya adalah laki-laki yg dia "cinta". Dia ingat, saat itu sang ibunda sangat menentang keputusannya, apa yang menjadi firasat ibunya tidak dia hiraukan.

Lirik ini bermaksud menyiratkan suara hati Mae yang terluka setelah kematiannya, dimana dia merasa apa yang dia inginkan selama hidupnya ternyata tidak tercapai dan hanya berakhir sia-sia. Dia terbangun dan rumahnya kala ini hanyalah tanah. Semakin dia meratapi kenangan semasa hidupnya semakin jauh dia merasakan keperihan di dalam hatinya.

Kepergiannya memang sangat tiba-tiba, tidak ada yang menyangka apalagi saat itu dia tengah mengandung 8 bulan. Kejadian demi kejadian terungkap setelah dia dan janin yang ada di perutnya dikubur bersama. 

Sampai pada suatu kejadian dimana rohnya merasuki raga seseorang dan memberikan sebuah lirik yang berisi cerita kisah hidupnya kepada seorang temannya semasa hidup yang notabene adalah seorang pencipta lagu. Liriknya berbahasa sunda, inti dari lagunya sendiri berisi tentang rasa sakit yang tak pernah hilang walau dibawa ke liang lahat dan permohonan maafnya kepada ibu saudara dan teman-teman yang pernah mengenalnya semasa hidup. 

Kebetulan, lagu yang berisi lirik buatan Mae dinyanyikan oleh ambu "Ida Widawati", pengisi lirik bahasa sunda di dalam lagu Bilur. Saat menyerahkan lagu "bilur" kepada ambu Ida, SARASVATI meminta agar beliau mengisi lirik Bahasa Sundanya, karena dia kesulitan dalam membuat lirik Bahasa Sunda. 

Dan SARASVATI bercerita, kalau lagu bilur ini dibuat berdasarkan kisah Mae yang pernah dia dengar darinya. Ambu Ida sangat antusias saat itu, mengingat baru kali pertama untuknya membuat sebuah kolaborasi dengan musik non tradisional, apalagi tema lagu yang diusung mengangkat kisah hidup seorang penembang yang juga merupakan sahabatnya. Akhirnya terbuatlah lirik bahasa sunda di lagu "bilur":

"Duh, teungteuingeun...
tuntung lengkah...
geuning...
bet peurih..."




Arti dari lirik Bahasa Sunda ini menerangkan bahwa ini benar-benar menyakitkan, akhir langkahku ternyata tetap perih, dan selalu perih. Walau singkat tapi lirik ini mengandung makna sangat kaya yang sangat mewakili perasaan seorang Mae(berdasarkan cerita demi cerita tentangnya). 



Lirik ini benar-benar bagus dan membuat saya merindiiiing. Kemudian ternyata, Ambu Ida bercerita kalau sebenarnya dia kesulitan saat mengisi lirik bahasa sunda ini. Tapi kemudian Mae datang menghampirinya dan memberikan lirik diatas untuk membantunya mengisi lagu "bilur". 



Berikut kutipan saya petik dari facebook SARASVATI mengenai lagu bilur:

"Terimakasih Bu Mae....atas lirik yang indah...dan kisah yang bisa dijadikan pelajaran untuk siapa saja yang mendengarnya.... Saya yakin, Ibu sekarang sudah jauh lebih tenang dan menemukan kebahagiaan disana, saya akan selalu berusaha mengingat dan mendoakan ibu..."

Jadi, lagu ini sangat mempunyai arti filosofi yang sangat dalam, sebagai orang yang masih diberi kesempatan oleh sang maha pencipta untuk hidup, belajarlah dari pengalaman Mae tersebut.



04. sarasvati - fighting club



We are happy family...
we don't think too equally..

na na na na na na..
na na na na na na..

i'm the one who win the bread..
you're all eating from my plate...
i'm the one who win the bread..
you're all eating from my plate...

i'm living in an orphanage,
you're living in cambridge..
you adored me and adopted me
now you're divorcing me

i'm the one who win the bread..
you're all eating from my plate...
i'm the one who win the bread..
you're all eating from my plate...

i won't search the reason why...
you blamed me, uuuh..

i don't see why i should feel..
an sympathy, uuuh..

don't send any flowers for me...
cause i'm gloomy, uuuh..

so this is the end of our journey..
if there's any, uuuh..

i won't search the reason why...
you blamed me, uuuh..
i don't see why i should feel..
an sympathy, uuuh..
don't send any flowers for me...
cause i'm gloomy, uuuh..

so this is the end of our journey..
if there's any, uuuh..






---------------------------------------------------------------
"fighting club"

Aku hanya terdiam sekilas kulihat pecahan telepon genggam di lantai yang tadi kulemparkan kelantai saat terakhir kali kita berbicara. Berserakan terbelah beberapa bagian. 


Tetapi kenapa masih saja kudengar, kurasakan.. Mata dan suaramu berteriak, memaki, menatapku ku rendah tak ubahnya sebuah bangkai cicak yang terjepit diantara pintu lemari es dan berkata bahwa aku adalah wanita tersulit yang pernah kau hadapi.

Dulu aku bukan siapa-siapa, begitupun kamu. Kita punya angan yang begitu tinggi, begitu jauh diatas sana hingga leher kita tak sanggup untuk melihat puncaknya. Dan punggung kita tak sanggup menahan beban kepala saat mendongak mencapainya. Tapi kamu bilang kita bisa menggapainya bersama. 


Kau bilang, "Pakailah leherku jika kau lelah mendongak". Begitupun aku, tak segan akan kupinjami punggungmu untuk membantuku menggapai. Kata-katamu terdengar seperti udara sejuk di telingaku, menjernihkan mataku yang begitu rabun terhalang halimun mimpi yang tak kunjung jelas.

" We are happy family...we don't think too equally.."

Begitu banyak waktu kuhabiskan untuk membangun mimpi kita. Aku masih menganggap bahwa ini adalah mimpi kita berdua, mimpi aku dan kamu. Kubangun mimpi ini dengan bantuan kata-kata indahmu yang masih terngiang ditelingaku. Hanya dengan itu, aku tak membutuhkan lehermu untuk menggapainya. Kupikir, biarlah leher dan punggungmu kau gunakan untuk membantu mewujudkan mimpi kita.


Cukup dengan kata-katamu. Aku bisa menggapainya...
Lambat..lambat..tapi terus merangkak keatas. 

Namun kulihat kau menunduk, terus menunduk sedikitpun kau tak mencoba untuk melihat ke atas, untuk mendongak bersamaku mengejar mimpi. Aku kini tak peduli apa isi mimpi di kepalamu, apakah mimpi "kita" seperti yang sedang kugapai kini. Entah mimpimu saja. Aku tak peduli, asal kau mau mendongak sedikit saja keatas. Aku pun tak segan menggenggam tanganmu dan meminjamkan leherku untuk membantumu tetap mendongak.

Kamu tetap menunduk, dan membuat mulutku berkata "Ya sudah tak apa kamu terus menunduk akan kuberitahu apa saja yang kamu ingin tahu diatas sana. Sebentar lagi aku akan mencapainya walau leher dan punggungku lelah, aku senang karena aku bisa membantumu melihat apa yang ada di atas sana dan aku ingin kamu merasakan seperti apa rasanya berada diatas sana karena aku melakukan ini demi kamu dan diriku". 


Dan kamu menjawab, "Baiklah kalau begitu beritahu aku apa saja yang ada diatas sana dan biarkan aku merasakan apa yang ada diatas sana tapi aku akan tetap menunduk terus menunduk..."

"i'm living in an orphanage, you're living in cambridge..i'm the one who win the bread..you're all eating from my plate..."
  
Terus menerus kamu bertanya, ada apa diatas sana? Dan tanpa lelah, selalu kuceritakan segalanya untuk kamu. Lalu kuajak kamu untuk ikut keatas sana dengan menaiki punggungku, namun kamu enggan dengan alasan, "Aku laki-laki dan kamu wanita, tidak sudi rasanya aku menaiki punggung wanita". 


Bahkan untuk 'kita' pun kamu kini mengklasifikasikan bahwa aku wanita dan kamu laki-laki. Kupikir dengan bersatunya kita atas nama menggapai mimpi bersama kita menjadi sabuah individu baru yang tidak membedakan kita menjadi seorang laki-laki dan seorang wanita. Aku anggap itu hanya ego kamu saja, dan tak lelah aku ceritakan apa saja yang ada diatas sana dan apa saja yang kurasakan.

Suatu hari kamu kembali bertanya, "Ada apa diatas sana?". Lalu kuceritakan apa yang sedang kualami kala itu. Aku senang bisa menggapai mimpiku, kuberitahu kamu bahwa kadang aku membutuhkanmu untuk membantuku menjalankan mimpiku. Aku butuh kamu untuk bersama-sama bergenggaman tangan diatas sana. 


Aku jelaskan, bahwa kamu tidak perlu lagi mendongak karena aku sudah berada dipuncaknya, kamu hanya tinggal melompat dan menapaki jalan yang sudah kutata untuk kamu melangkah keatas. Aku lalu berkata "Kadang aku lelah menceritakan semuanya untuk kamu. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi aku.."

Aku masih menggenggam telepon genggamku saat kamu terus menerus mencercaku dengan pernyataan pernyataan yang tidak ingin aku dengar. Rupanya kamu menganggap aku adalah wanita yang paling sulit kamu mengerti, wanita paling egois yang pernah kamu kenal dan kamu berkata, aku adalah wanita yang paling kamu benci saat ini.

Tembok kepercayaan yang telah kubangun untuk kamu hancur saat itu juga, entah mengapa aku tidak perduli dengan suaramu dengan kata-katamu dengan segala tingkah lakumu. Aku hanya ingin melemparkan telepon genggamku dan menjauhkan dari telingaku. 


Tapi perkataanmu masih terngiang dan terus menerus memenuhi isi kepalaku. Aku bertanya dalam hati "Sebenarnya apa yang ada di kepalamu selama ini? Apa yang kamu rasakan selama ini? Kemana kata-kata indah yang kamu rangkai sedemikian rupa untuk 'kita'?" 

Jika kamu mendengar pertanyaanku tolong jawab kenapa. Mmmmh tapi tunggu,  rasanya kamu tidak perlu bersusah payah memikirkan jawaban dari pertanyaan pertanyaanku tadi, lebih baik aku melangkah dan meninggalkan kamu jauh dibawah sana..."

"i won't search the reason why...you blamed me, i don't see why i should feel..an sympathy....so this is the end of our journey..if there's any.."

03. sarasvati - question



stop the sound from shouting
they're burning up my ears
let me live a daydream
those fantasies she feels
it's made of copper from the air
it's black charcoal that's golden fair

what am i suppose to feel..?
what am i suppose to feel..?
what am i suppose to feel..?

i only see and what i want, can not be

does she always walk on bended knees
yet soars up high

on happy seas
on happy seas
on happy seas

a silent question in my head
in hers a poetry openly read
she is not of being like mine

she does not seek she can not find
she does not seek she can not find


stop the sound from shouting
they're burning up my ears
let me live a daydream
those fantasies she feels
it's made of copper from the air
it's black charcoal that's golden fair

what am i suppose to feel..?

stop the sound from shouting
they're burning up my ears

let me live a daydream
those fantasies she feels
it's made of copper from the air
it's black charcoal that's golden fair

what am i suppose to feel..?
what am i suppose to feel..?