Minggu, 20 Februari 2011

02. sarasvati - cut and paste



I hear voices inside my back
Disturbing peace for my year's sake
I need a rest to hear the air
I've been deaf for you is it fair?

There is a girl with a million lust
She does things to get it fast
She's only good in cut and paste
A silly girl who think she's the best

There is something in your mind
Force my every single line
Should I dancing in your stage
Just like your cat in your cage

There is no light there's only dark
in your heart I see no art
I'm like a busker in the park
I sing I cry I play my part...



---------------------------------------------------------------
"cut and paste"

Aku mulai berteriak histeris, menangis, meraung seperti singa yang kehilangan anak. Ditanganku masih menempel beberapa serpihan cermin yang berserakan dilantai tepat dibawah kakiku. Selama 24 tahun tinggal di rumah orangtuaku, ini adalah cermin kelima yang telah kupecahkan, kubanting seketika itu juga saat tadi tak sengaja memasuki kamar adikku. Mungkin dia akan marah nanti, tapi tak apa aku lebih takut melihat cermin daripada semburan kemarahan yang keluar dari mulutnya. 

Aku tahu, ibu sudah memperingatkan seisi rumah untuk tidak menaruh cermin sembarangan, ibu lebih memilih untuk tidak berdandan daripada melihat aku menangis histeris. Tapi adikku adalah gadis kecil yang tak lama lagi akan bertransformasi menjadi seorang perempuan, sepertinya dia tidak tahan dengan keabsenan 'cermin' dalam proses transformasinya. Maafkan aku dik, lebih baik kuhadapi tantangan menceburkan diri kedalam kawah panas dibandingkan jika harus melihat diriku didepan cermin.

Dulu aku tak begini. Hidupku dipenuhi mimpi yang biasa hinggap di kepala banyak gadis remaja, ingin menjadi inilah ingin menjadi itulah. Aku adalah wanita yang penuh dengan hasrat dan obsesi, sebagai anak pertama. Orang tuaku memberikan segalanya untuk memfasilitasi mimpi mimpiku. Saat aku ingin menjadi pemandu sorak, mereka tak segan mensupportku dengan berbagai hal. 

Saat aku ingin menjadi pemain softball, saat aku ingin menjadi penyanyi bahkan saat aku nekat ingin mengikuti olympiade matematika, mereka selalu ada dibelakangku, mensupportku. Aku termasuk gadis beruntung, semua keinginanku bisa kuwujudkan. Mungkin hal ini yang membuat diriku merasa bahwa aku adalah gadis yang lebih hebat daripada teman-temanku yang lain.

Aku lebih suka berbicara dengan diriku sendiri, melalui cermin. Disitu kulihat semua kesempurnaan seorang aku. Aku merasa terbelah menjadi dua. Aku yang ada disini, dan aku yang ada di dalam cermin yang seringkali memotivasiku untuk terus bergerak dan bergerak. Kuanggap hanya diriku yang ada di dalam cerminlah satu-satunya orang yang bisa mengatur hidupku.

Aku tidak percaya pada kata "persahabatan", kuanggap semua orang yang berada di dekatku adalah orang-orang yang memang ingin berkenalan dengan seorang manusia yang berkualitas sepertiku. temanku banyak, tapi dimataku. Tidak bisa kulihat ada tulisan "Sahabat" yang tertulis di kepala mereka.  

Aku tidak memiliki pacar, karena dipikiranku, laki-laki yang mencoba mendekatiku adalah laki-laki yang ingin menjadi terkenal dan hanya memanfaatkan namaku untuk mencapainya. Aku memiliki rasa curiga berlebih terhadap manusia lain, termasuk pada adikku sendiri.  Egois memang, tapi apa salahnya berjaga-jaga daripada aku yang menderita di kemudian hari.

Ada seorang murid pindahan (saat itu aku masih duduk di bangku sekolah), seorang laki laki pendiam, sangat sederhana tapi wajahnya cukup lumayan. Dalam hitungan hari, tiba-tiba dia menjadi seorang sosok idola di mata teman-teman. Perhatian padaku mulai teralihkan padanya, dia pintar dalam segala bidang bahkan dia menguasai satu bidang yang sangat sulit kupelajari, yaitu teater. 

Pria ini pintar dalam semua hal, tapi  dia bisa menjadi sahabat semua orang. Sangat baik hati, ramah, dan yang sangat aku benci-dia begitu baik terhadapku. Aku merasa kalah total darinya, harus kulakukan sesuatu untuk orang ini, harus. Aku tahu, dibalik kebaikannya, dia pasti punya niat jahat untukku.

Suatu hari, ada sebuah pementasan teater di gedung sekolah, pria yang menjadi rivalku ini menjadi bintang utamanya. Semua orang antusias pada acara ini, sedang aku tenggelam dalam kekalahan dan aku harus merencanakan sesuatu yang harus bisa menggagalkan pementasannya. 

Hidupku takkan tenang jika harus melihat orang bersorak sorai terhadap aksinya. Mulai kurancang aksiku, seperti biasa. Aku mendapat ide ini dari rekanku diriku yang ada di dalam cermin. Dia sangat memotivasiku untuk merencanakan sesuatu berbahaya bagi rivalku ini. Sebelum pentas, kujalankan aksiku, ku potong beberapa tali yang menggantung diatas panggung, kuhitung dan ku kira-kira dimana dia akan berdiri dan pada menit keberapa dia akan berada disini.

Sebelumnya telah ku copy beberapa file dialog teater hari itu. Aku hanya ingin membuatnya 'cacat' sedikit saja, biarkan dia pincang saja agar tidak bisa menjadi atlet setidaknya ada satu bidang yang membuatku lebih unggul darinya. Semua ide ini kudapat dari diriku yang ada di dalam cermin.

........

Kesadaran ku hilang. Harga diriku jatuh sampai ke dasar muka bumi saat kejadian itu memang berhasil terjadi kepadanya. Laki laki yang kuanggap adalah saingan terberatku. Hanya saja, dia tidak hanya cacat tapi dia pergi untuk selamanya. 


Ternyata aku tidak sepintar itu memprediksi letak jatuhnya lampu yang harusnya menimpa kakinya. 

Ternyata aku tidak secerdas itu mengabaikan kejadian terburuk apa yang akan terjadi padanya. 


Perangkap yang kupasang untuknya jatuh tepat diatas kepala, ratusan teman-temanku yang sedang menonton pertunjukkan teater menjadi saksi dari hancurnya kepala sang idola. 

Aku ada disitu, menggigil tidak bisa berbuat apa-apa....

Baru kali ini aku merasa "bersalah", aku menghukum diriku sendiri. Tak berani kuungkapkan kenyataan sebenarnya aku yang berbuat jahat padanya.

"i hear a voices inside my back.... disturbing peace for my years sake... i need a rest to hear the air..."

Detik itulah detik dimana aku mulai membenci cermin, berpuluh tahun kupercayakan segala keputusan atas tingkah lakuku pada diriku yang berada di dalam cermin. 

Kubiarkan aku yang didalam cermin terus berpendapat atas apa yang harus kulakukan. Aku percaya padanya tapi untuk kali ini dia telah membunuhku langsung menembak tepat dengan sebuah peluru meluncur ke dalam otak. 

Pada detik itulah aku mulai menghancurkan semua cermin yang ada di dalam rumahku, detik dimana aku mulai kehilangan arah dan terus berteriak histeris. Aku membenci diriku sangat membenciii. Aku merasa diriku adalah seorang wanita penuh hasrat yang rela melakukan apapun demi menggapainya.. Aku benci....

"there is a girl with a million lust, she does things to get if fast, she's only good in cut and paste..."

Dan aku benci diriku yang ada di dalam cermin, selama ini aku menurut padamu, kuanggap kamu sahabatku. Bagaimana mungkin ternyata diriku sendiri lah yang mencelakakan aku. Ku anggap kamu adalah orang lain, walau wajah kita sama baju kita sama gaya kita sama.

Tapi aku tidak pernah begitu percaya terhadap orang lain selain diriku sendiri dan diriku yang ada di dalam cermin. Seumur hidup aku akan terus berada di dalam belenggu penyesalan....

kepada diriku yang ada di dalam cermin..... 

"there is something in your mind, force my every single line...should i dancing in your stage....just like your cat in you cage...there is no light there's only dark....in your heart i see no art...."

Dan aku mulai memecahkan cermin. Meraung.... mengurung diri di dalam kamar kotakku yang lebih menyerupai sebuah penjara, tanpa jendela tanpa cermin. Kugelapkan ruangan ini dan menutup telingaku...


Tidak ada komentar: